LABORATORIUM : Perspektif Teknologi Pembelajaran

Oleh: Mustaji, Teknolog Pembelajaran

Disajikan Dalam Workshop Penyusunan Panduan Penggunaan Laboratorium
Di Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Surabaya
Rabu, 23 Desember 2009

Prof. Dr. Mustaji, M.Pd.A. Pengertian

Dalam dunia pendidikan disadari perlunya menghubungkan antara teori dan praktek. Prinsip-prinsip akan dikaji dalam praktek. Apa yang terdapat dalam pengalaman praktek dicari dasar-dasarnya dalam teori, dalam prinsip-prinsip. Hubungan antara teori dan praktek seyoginya bersifat berlapis-lapis yang integratif, di mana teori dan praktek secara bergantian dan bertahap saling isi mengisi, saling mencari dasar, dan saling mengkaji. Sehubungan kaitan antara teori dan praktek inilah laboratorium dan fasilitas lain dalam proses belajar-mengajar patut mendapat perhatian. Di laboratorium berlangsung kegiatan kerja laboratorium (laboratory work).

Laboratorium ialah tempat untuk melatih mahasiswa dalam hal keterampilan melakukan praktek, demonstrasi, percobaan, penelitian, dan pengembangan ilmu pengetahuan. Laboratorium yang dimaksud di sini tidak hanya berarti ruangan atau bangunan yang dipergunakan untuk percobaan ilmiah, misalnya dalam bidang sains (science), biologi, kimia, fisika, teknik, dan sebagainya; melainkan juga termasuk tempat aktivitas ilmiahnya sendiri baik berupa percobaan/eksperimen, penelitian/riset, observasi, demontrasi yang terkait dalam kegiatan belajar-mengajar. Dengan kata lain “laborary work” adalah kegiatan (kerja) ilmiah dalam suatu tempat yang dilakukan oleh mahasiswa atau guru/dosen atau pihak lain, baik berupa praktikum, observasi, penelitian, demonstrasi dan pengembangan model-model pembelajaran yang dilakukan dalam rangka kegiatan belajar-mengajar.

Jadi pengertian laboratorium tidak hanya termasuk di dalamnya gedung atau ruang dan peralatannya, seperti misalnya laboratorium kimia, fisika, teknik, dan sebagainya. Akan tetapi pengertian laboratorium termasuk juga sekolah/kelas dan bahkan masyarakat sendiri. Lembaga kemasyarakatan, alam sekitar juga merupakan laboratorium. Ia merupakan sumber belajar dan media dalam proses belajar-mengajar yang tidak akan habis.

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa yang disebut “laborary work” adalah kegiatan kerja ilmiah yang dilakukan dalam sebuah laboratorium. Untuk memberikan pemahaman yang sistemik berikut beberapa pengertian laboratorium yang dapat diartikan dalam bermacam-macam segi :

  1. Laboratorium dapat merupakan wadah yaitu tempat, gedung, ruang dan segala macam alat/perlengkapan yang diperlukan untuk kegiatan ilmiah. Dalam hal ini laboratorium dilihat sebagai perangkat keras (hardware).
  2. Laboratorium dapat merupakan sarana media di mana dilakukan kegiatan belajar-mengajar. Dalam pengertian ini laboratorium dilihat sebagai perangkat lunak (software) dalam kegiatan ilmiah.
  3. Laboratorium dapat diartikan sebagai pusat kegiatan ilmiah untuk menemukan kebenaran ilmiah dan penerapannya.
  4. Laboratorium dapat diartikan sebagai pusat inovasi. Dengan sarana dan prasarana yang dimiliki oleh sebuah laboratorium diadakanlah kegiatan ilmiah; eksperimentasi sehingga dapat diperoleh temuan-temuan baru dalam bidang keilmuan yang membawa pembaharuan baik itu berupa mesin-mesin, bahan-bahan baru, cara-cara kerja, dan sebagainya.
  5. Dilihat dari segi “clientele” maka laboratorium merupakan tempat di mana mahasiswa atau dosen atau pihak lain melaksanakan kegiatan kerja ilmiah dalam rangka kegiatan belajar-mengajar.
  6. Dilihat dari segi kerjanya laboratorium merupakan tempat di mana dilakukan kegiatan kerja untuk menghasilkan sesuatu. Dalam hal demikian ini bidang teknik laboratorium dapat diartikan sebagai bengkel kerja.
  7. Dilihat dari segi hasil yang diperoleh maka laboratorium dengan segala saran adan prasarana yang dimiliki dapat merupakan dan berfungsi sebagai pusat sumber belajar (PSB).

B. Macam Laboratorium

Macam ragam laboratorium dapat dilihat dari beberapa segi. Dilihat dari segi pendekatannya ada beberapa macam, yakni (1) Persobalized Sytem of Instruction (PSI), (2) Audio Tutorial Method (A-T), (3) Computer Assisted Learning (CAL), (4) Learning Aids Laboratory (LAL), (5) Modular Laboratory (M-L), (6) Integrated Laboratory (IL), (7) Project Work, dan (8) Participation in Research (PIR)

Personalized System of Instruction

“Personalized System of Instruction” (PSI) ditemukan oleh Keller (1968) merupakan pendekatan baru dalam bidang pembelajaran. Oleh karena itu PSI sering disebut “The Keller Plan”. Karakteristik dari PSI adalah sebagai berikut :

  1. Kemajuan mahasiswa berdasarkan berdasar pada langkahnya sendiri, didasarkan pada irama kerjanya. Ada yang cepat dan berinisiatif tinggi, ada yang sedang-sedang saja, dan ada pula yang lamban dengan semboyan ”biar lambat asal selamat”.
  2. Sebelum mempelajari unit berikutnya, mahasiswa harus membuktikan terlebih dahulu penguasaannya terhadap pembelajaran dan unit yang sudah dipelajarinya dengan membuat satu atau beberapa tes.
  3. Pelaksanaan perkuliahan yang dijalankan lebih dianggap memberikan motivasi serta dapat memberikan informasi atau tambahan pengetahuan.
  4. Staf pengajar bukan hanya dosen, tetapi juga mahasiswa senior yang berfungsi sebagai tutor.
  5. Materi pembelajaran dibagi dalam unit-unit yang masing-masing terdiri dari : (1) pengantar, (2) tujuan pembelajaran, (3) kegiatan pembelajaran, dan (4) serangkaian pertanyaan yang berfungsi untuk memperdalam materi yang telah dipelajari
    1. Apabila seorang mahasiswa merasa sudah siap mempelajari unit selanjutnya yang dibuktikan dengan kelulusan dari tes unit yang telah lalu, maka mahasiswa tersebut dapat terus maju ke unit yang selanjutnya. Sebaliknya dengan kegagalan menempuh tes unit yang lalu, maka terbukti masih adanya kekurangsiapan mahasiswa tersebut untuk mengambil unit yang berikutnya. Akibatnya ialah mahasiswa tersebut diwajibkan mempelajari kembali tes tersebut dengan bimbingan tutor sebelum menempuh tes sekali lagi.
    2. Ternyata sistem tersebut di atas memakai “feedback mecanism” dalam arti hasil tes seorang mahasiswa merupakan umpan balik sejauh mana mahasiswa sudah atau belum memiliki pengusaan atas materi dari unit yang telah dipelajarinya.
    3. Dilihat dari segi tujuan pembelajaran dapat tersimpul karakteristiknya bahwa tujuan pembelajarannya bersifat “behavioral”.
    4. Biasanya “Criterion Referenced Testing” yang dipakai untuk menilik penguasaan mahasiswa atas bahan yang telah dipelajarinya.

Audio Tutorial Method

Pendekatan Audio Tutorial Method (A-T) ini semula dikembangkan oleh Portlethwart (1969-1972) yang merupakan metode dalam pembelajaran biologi di Purdue University. Materi atau bahan pembelajaran dibagi-bagi ke dalam bagian-bagian untuk satu minggu lamanya yang berisi teori maupun praktek. Bahan tersebut dimasukkan ke dalam kaset, di mana setiap mahasiswa dengan manempati tempat yang tertentu (semacam “booth” dalam laboratorium bahasa) belajar melalui kaset dengan peralatan laboratorium lain yang tersedia.

Karakteristik dari pendekatan “Audio Tutorial Method” ini adalah :

  1. Pendekatan dengan media “audio tutorial” ini dipakai untuk mengatasi besarnya kelas/jumlah mahasiswa dengan memberikan bimbingan dalam pita kaset. Program belajar adalah didasarkan pada irama kerja atau kecepatan maju mahasiswa sendiri
  2. Dilihat dari segi tertentu ceramah yang dikasetkan dalam bentuk program bimbingan bersifat memberikan motivasi saja.
  3. Diperlukan umpan balik kerja mahasiswa untuk dapat mengetahui apakah mahasiswa tersebut dapat melanjutkan belajarnya pada bagian yang berikut dengan menempuh serangkaian tes.
  4. Tujuan yang diumumkan bersifat “behavioral”.
  5. Dipakai “Criterion Referenced Testing”.
  6. Terdapat integrasi antara teori dan praktek.
  7. Dalam hal ini kaset dapat digolongkan sebagai media.

Computer Assisted Learning

Istilah “Computer Assisted Learning (CAL)” sering dipakai di kalangan buruh dalam kerajaan Inggris, sedang istilah lain dengan isi yang sama adalah “Computer Assisted Learning (CAL)” yang sering dipakai di kalangan guru-guru di Amerika Serikat. Komputer dalam pendekatan ini dipakai sebagai sarana atau media belajar. Seringkali komputer untuk membuat model atau simulasi suatu situasi atau suatu proses yang baik mungkin tersedia untuk dipelajari mungkin karena mahalnya atau karena kelangkaannya, sehingga tidak mungkin untuk memperoleh pengalaman langsung dari padanya. Perananan dosen digantikan oleh komputer karena dapat mengisi kekurangan-kekurangan yang terdapat pada guru/dosen tersebut.

Karakteristik dari “Computer Assisted Learning” sebagai berikut :

  1. Mahasiwa dapat belajar menurut irama kerjanya.
  2. Diperlukan balikan untuk memungkinkan segera mengetahui apakah seseorang memenuhi penguasaan atas materi atau untuk menentukan dapat atau tidaknya belajar bagian yang berikutnya.
  3. Komputer berfungsi sebagai tutor baik sebagai pemberi informasi, pemberi tugas, pemberi tes, dan menilai hasil tes serta menentukan hasil yang dicapai oleh mahasiswa.
  4. Selain sebagai tutor, komputer juga berfungsi sebagai simulator, sebagai model yang memberikan kepada mahasiswa fasilitas untuk berhitung simulasi, model-model, dan pemecahan masalah.

Learning Aids Laborary

“Learning Aids Laborary (LAL)” dapat dirumuskan sebagai pusat di mana mahasiswa terlibat dalam belajar secara individual dengan memakai sarana atau peralatan yang ada dalam laboratorium, misalnya AVA, komputer, pameran, percobaan sendiri atau studi referensi.

Keberhasilan belajar dengan pendekatan LAL ini sangat tergantung pada motivasi mahasiswa itu sendiri, karena peralatan dalam laboratorium, baik yang “hardware” maupun “software”nya tergantung pada niat, kemampuan, dan irama kerja dari mahasiswa sendiri. Laboratorium di sini hanya berfungsi sebagai media belajar-mengajar.

Karakteristik dari “Learning Aids Laborary” adalah :

  1. Amat tergantung dari irama kerja mahasiswa.
  2. Dapat membangkitkan minat dan perhatian mahasiswa.
  3. Seperti kerja laboratorium yang lain mahasiswa dapat menghubungkan dan mengintegrasikan antara teori dan praktek.
  4. Peralatan yang tersedia dalam laboratorium berfungsi sebagai media.

Modular Laborary

Yang disebut dengan “Modular Laborary (M-L)” adalah laboratorium, di mana mahasiswa, dosen atau orang lain dapat melakukan kegiatan praktek (dalam arti belajar) dengan menggunakan modul-modul yang tersedia. Yang dimaksud dengan modul adalah suatu unit yang berdiri sendiri dari rangkaian suatu perencanaan yang berseri dalam kegiatan pelajaran yang direncanakan untuk membantu mahasiswa dalam melaksanakan sesuatu hal yang tertentu akan lebih obyektif. Sedangkan modul itu sendiri dimaksudkan sebagai suatu paket kurikulum yang disediakan untuk dapat dipakai belajar sendiri.

Penggunaan modul sebagi metode belajar-mengajar yang bersifat inovatif antara lain dimaksudkan untuk mengatasi jumlah kelas yang sulit diperhatikan perbedaan-perbedaan individual dari mahasiswa.

Karakteristik “Modular Laborary” sebagai suatu belajar-mengajar antara lain adalah :

  1. Sistem modul memungkinkan mahasiswa belajar berdasarkaan irama kerja yang dimilikinya.
  2. Menurut penguasaan (mastery learning) atas apa yang telah dipelajarinya sebelum berpindah ke modul yang lebih lanjut.
  3. Dibutuhkan balikan yang dapat menentukan apakah mahasiswa tersebut sudah siap mempelajari modul berikutnya, yaitu berdasarkan hasil tes yang telah ditempuhnya.
  4. Tujuan khusus pembelajaran biasanya dirumuskan “behavioral”.
  5. Terdapat “Criterion Referenced Testing” untuk menentukan kesiapan mahasiswa mengambil modul berikutnya.
  6. Fungsi modul di sini adalah sebagai media dalam proses belajar-mengajar.

Integrated Laborary

“Integrated Laborary (IL)” adalah laboratorium yang terintegrasi berusaha mengintegrasikan, menyatakan disiplin yang terpisah-pisah atau sub-sub disiplin ke dalam satu paket belajar dengan media laboratorium yang terintegrasikan. Misalnya laboratorium kimia, fisika, dan biologi apalagi disatukan dalam satu paket maka merupakan integrasi dari disiplin ilmu kimia, ilmu fisika, dan ilmu hayat. Yang dipersatukan mungkin pula dalah sub disiplin ilmunya, misalnya kesatuan program laboratorium untuk kimia organik, kimia anorganik, kimia analitis, dan kimia fisis.

Contoh lain, Ilmu Pengetahuan Sosial amat dekat hubungannya dengan Pendidikan Moral Pancasila. Oleh karenaya demi pemakaian laboratorium yang berdayaguna dan berhasilguna maka “Integrated Laborary” untuk kedua disiplin atau bidang studi tersebut amat bermanfaat.

Karakteristik IL adalah sebagai berikut :

  1. Terdapat tumpang tindih antar bidang studi (interdisciplinary overlap).
  2. Terdapat tumpang tindih dalam satu bidang studi (intradisciplinary overlap), misalnya laboratorium kimia yang dipakai untuk kimia organik, biokimia, kimia analisis, kimia fisis, dan sebagainya.
  3. Terdapatnya simulasi profesional (profesional simulation).
  4. Pada karya dalam arti penuh dengan kerja karena didisain untuk dipergunakan bekerja, belajar dalam berbagai bidang studi, disiplin atau sub disiplin ilmu.

Project Work (Belajar dengan Bekerja)

Belajar dengan bekerja atau “Project Work” merupakan suatu pengalaman belajar tersendiri, di mana mahasiswa dihadapakan kepada masalah-masalah konkrit yang harus dipecahkan. Proyek di sini diartikan sebagai suatu unit praktek dari suatu kegiatan yang memiliki nilai pendidikan untuk menuju kepada satu atau lebih tujuan konkrit dalam hal penyelidikan dan pemecahan masalah yang sering dipakai dalam penggunaan materi fisik, direncanakan untuk disempurnakan oleh mahasiswa dan dosen dalam menuju suatu kehidupan nyata yang wajar.

Dalam laboratorium “Project Work”, mahasiswa atas nasehat dosen pembimbing memilih satu topik proyek. Atas dasar pilihan itu dipilih kepustakaan untuk mendapatkan informasi. Informasi ini merupakan dasar penyusunan rencana kerja untuk mencapai tujuan yang telah dirumuskan terlebih dahulu. Barulah kemudian menyusul fase kerja lapangan, eksperimen dengan berbagai alat yang tersedia atau bila perlu dibuat terlebih dahulu. Langkah-langkah yang dilaksanakan dan masalah yang timbul serta hasil-hasil yang kerja ilmiah. Selama proses berlangsung, pembimbing proyek memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk berkonsultasi mengenai masalah-masalah yang dihadapi.

Ada tiga tipe dalam “Project Work” , yakni (1) Proyek dipakai sebagai sarana untuk mendapatkan keterampilan dan pengetahuan, (2) Proyek dipakai sebagai alat untuk secara umum mengembangkan keterampilan dan sikap, dan (3) Orientasi proyek di mana proyeknya sendiri merupakan penentu utama dari isi pembelajaran.

Karakteristik daripada “Project Work” ini adalah :

  1. Kemajuan mahasiswa ditentukan oleh irama kerjanya.
  2. Membutuhkan pembimbing.
  3. Tumpang tindih antar bidang studi (interdisciplinary overlap).
  4. Dapat pula terjadi tumpang tindih dalam satu bidang satu bidang (intradisciplinary overlap).
  5. “profesional simulation”
  6. Orientasinya pada riset.
  7. Topik dapat dipilih sendiri oleh mahasiswa.
  8. Merupakan rencana untuk belajar yang di dalamnya terdapat pengalaman belajar.
  9. Biasanya dilaksanakan oleh mahasiswa dalam bentuk tim.

Participation in Research

Dalam model “Participation in Research (PIR)” mahasiswa ikut serta dalam riset nyata yang sedang diadakan oleh fakultas atau lembaga lain, misalnya Lembaga Penelitian, Lembaga Pengabdian pada masyarakat, dan sebagainya. Riset yang sedang dilaksanakan itu merupakan laboratorium di mana mahasiswa mendapatkan pengetahuan langsung, baik terori maupun praktek dari pengalaman kerja dalam riset tersebut. Dalam riset inilah mahasiswa mempelajari konsep yang dipadukan dalam praktek dalam kehidupan yang nyata.

Karakteristik dari pada “Participation in Research” ini adalah :

  1. Kemajuan mahasiswa yang sejalan dengan irama kerjanya.
  2. Tersedia tutor.
  3. Terjadi tumpang tindih dalam satu bidang studi (intradisciplinary overlap).
  4. Simulasi profesional.
  5. Orientasi riset.
  6. Rencana kerja/aktivitas.
  7. Biasanya dilaksanakan dalam bentuk tim.
  8. Di samping macam-macam laboratorium yang didasarkan pada segi pendekatan, macam-macam laboratorium dapat pula didasarkan pada bidang studi atau kelompok bidang studi, yakni :
  9. Laboratorium untuk bidang scince, misalnya laboratorium IPA, laboratorium Matematika, dan sebagainya.
  10. Laboratorium untuk bidang studi tertentu, misalnya laboratorium Bahasa, laboratorium PMP, laboratorium IPS, dan sebagainya.
  11. Untuk bidang keguruan, misalnya PSB merupakan laboratorium di mana PSB dapat memberikan fasilitas yang ada untuk mempelajari bidang ini, misalnya AVA untuk program pembelajaran mikro. Sekolah Latihan dapat pula merupakan laboratorium keguruan, dan sebagainya.
  12. Untuk bidang keterampilan, misalnya laboratorium Keterampilan PKK, Laboratorium Keterampilan Jasa, laboratorium Keterampilan Kerajinan, dan laboratorium Keterampilan Teknik.

Fungsi Laboratorium

Secara garis besar fungsi laboratorium adalah sebagai berikut :

  1. Memberikan kelengkapan bagi pelajaran teori yang telah diterima sehingga antara teori dan praktek bukan merupakan dua hal yang terpisah, melainkan dua hal yang merupakan suatu kesatuan. Keduanya saling mengkaji dan saling mencari dasar.
  2. Memberikan keterampilan kerja ilmiah bagi mahasiswa.
  3. Memberikan dan memupuk keberanian untuk mencari hakekat kebenaran ilmiah dari sesuatu obyek dalam lingkungan alam dan lingkungan sosial.
  4. Menambah keterampilan dalam mempergunakan alat media yang tersedia untuk mencari dan menentukan kebenaran.
  5. Memupuk rasa ingin tahu mahasiswa sebagai modal sikap ilmiah seseorang calon ilmuwan.
  6. Memupuk dan membina rasa percaya diri sebagai keterampilan yang diperoleh, penemuan yang didapat dalam proses kegiatan kerja di laboratorium.

Uraian manfaat kegiatan laboratorium tersebut dapat dikaitkan dengan beberapa contoh manfaatnya dalam bidang studi tertentu. Di bidang IPS, misalnya manfaat dari kegiatan laboratorium antara lain adalah: (1) Menimbulkan gairah dan mendorong untuk belajar IPS, karena kegiatan laboratorium tekanan diberikan pada aktivitas mahasiswa, (2) Lebih meragakan konsep-konsep dan proses pembelajaran IPS, (3) Mendorong penggunaan proses belajar-mengajar IPS yang bersifat multi media, (4) Membantu meningkatkan pengetahuan dan keterampilan profesional calon guru IPS, (5)

Di bidang keterampilan, misalnya keterampilan teknik manfaat dari kegiatan di laboratorium antara lain adalah (1) Melatih mahasiswa agar terampil dalam melakukan kegiatan praktek keterampilan teknik untuk berbagai sub bidang keterampilan, (2) Merakit dan memasang alat/perlengkapan laboratorium keterampilan teknik, (3) Melakukan aktivitas percobaan guna mengecek, uji coba, dan meneliti alat-alat laboratorium keterampilan teknik, ketetapan-ketetapan serta standardisasi yang telah dibuat, (3) Membentuk dan mendisain komponen-komponen tertentu dalam berbagai keahlian dengan menggunakan fasilitas laboratorium keterampilan teknik, (4) Melayani mahasiswa dan masyarakat dalam melakukan praktek kependidikan melalui alat-alat laboratorium keterampilan teknik sebagai media, dan (5) Merawat dan memperbaiki alat/perlengkapan laboratorium keterampilan teknik.

Berlainan dengan 2 bidang studi di atas, rupanya bekerja/belajar dalam laboratorium bahasa tidak dimaksudkan untuk mengembangkan bahasa dilihat dari segi kontek atau isi melainkan lebih merupakan kegiatan untuk meningkatkan keterampilan berbahasa. Dalam pendidikan nilai-nilai (value education), seperti halnya dengan PMP, dengan penghargaan terhadap waktu, mencari dan mendapatkan mufakat/konsensus dapat disimulasikan dalam permainan peranan, dimana “job sheet” yang tersedia dalam laboratorium dapat dipergunakan.

Fungsi tersebut di atas dapat terwujud dengan baik apabila dosen mampu menggunakan dan mengelola, serta mengembangkan laboratorium dalam rangka proses balajar-mengajar.

Untuk dapat menunjang efektivitas pembelajaran, maka beberapa hal penting yang harus dimiliki oleh suatu laboratorium yang teroganisir secara baik, ialah :

  1. Efisien dan Efektif
    Pengaturan alat/perlengkapan adalah merupakan yang paling penting, sehingga memungkinkan bagi dosen dan para mahasiswa untuk dapat bekerja dengan hasil yang maksimal serta waktu, bahan, tenaga yang minimal.
  2. Sehat dan Aman
    Cahaya/penerangan yang baik, serta ventilasi/hawa yang cukup, tidak terlalu bising, dan dengan penataan alat/perlengkapan yang baik akan menciptakan suasana yang sehat dan aman atau tidak membahayakan.
  3. Memenuhi kebutuhan psikologis mahasiswa yang berpraktek.
    Misalnya dapat memberikan kesan teratur, aman, dan menyenangkan kepada mahasiswa yang melaksanakan praktek. Sehingga bekerja/belajar di laboratorium adalah merupakan pekerjaan/pelajaran yang mengasyikan kepada mahasiswa.
  4. Dapat dikontrol dosen pengelola setiap saat.
    Hal ini bahwa dosen pengelola harus dapat melihat ke segala jurusan, serta dapat mengedar peralatan mana yang sedang dipakai/dioperasikan. Sehingga dengan demikian dosen tersebut dapat menilai situasi atau keadaan dengan cepat dan tepat.
  5. Menjamin keselamatan alat dan mahasiswa.
    Keselamatan alat/perlengkapan serta instrumen dan bahan-abahn baku harus diperhatikan penggunaan dan keselamatannya. Hal ini lebih penting lagi ialah memperhatikan keselamatan dari siswa itu sendiri sebagai pekerja di laboratorium.
  6. Memberikan suasana pandangan yang menyenangkan.
    Dengan penataan warna yang menarik akan menciptakan suasana pandangan yang menyenangkan di laboratorium, misalnya : dinding yang dicat dengan warna hijau muda, biru muda, coklat, muda, dan warna-warna lembut lainnya akan memberikan suasana pandangan yang menyenangkan.

D. Prinsip Perencanaan Penggunaan Laboratorium

Seperti telah dikemukakan bahwa laboratorium adalah merupakan sarana untuk menjembatani teori dan praktek. Dengan bekerja/belajar di laboratorium, mahasiswa dapat konsep-konsep yang didapat dalam teori. Oleh karena itu perencanaan penggunaan laboratorium dalam program belajar-mengajar harus mengingat dimensi-dimensi berikut (1) Jenis atau macam laboratorium yang digunakan, (2) Siapa yang akan menggunakan laboratorium tersebut, (3) Waktu yang tersedia, (4) Alat/perlengkapan yang ada, (5) Bidang studi, dan (6) Konten dalam arti topik.

Perencanaan penggunaan laboratorium yang tersedia harus memperhatikan hal-hal tersebut di atas. Setiap jenis laboratorium mempersyaratkan penggunaan dengan cara yang tertentu. Siapa yang akan menggunakan ikut menentukan rencana pemanfaatan laboratorium. Hal ini erat juga hubungannya dengan macam dan sudut penggunaan laboratorium.

Mengenai dimensi waktu perlu diperhatikan, antara lain (1) Waktu yang tersedia bagi dosen;(2) Waktu yang tersedia bagi mahasiswa; dan (3) Waktu yang tersedia bagi guru (pamong) apabila kita berfikir bahwa “client” akhir dari LPTK adalah sekolah dengan guru pamongnya. Alat/perlengkapan yang tersedia dalam laboratorium dan bagaimana cara menggunakannya akan berbeda-beda. Oleh karena itu akan turut menentukan rencana pemanfaatan laboratorium sebagai media proses belajar-mengajar. Penggunaan “Overhead Projector” (OHP) akan lain dengan “Project Film”, dan akan lain pula dengan “Slide Projector”. Cara bekerja dalam laboratorium IPA lain pula dengan laboratorium Matematika, karena alat/perlengkapan yang dipakai pun berbeda.

Dimensi lain yang perlu diperhitungkan dalam perencanaan pemanfaatan laboratorium adalah bidang studi atau disiplin ilmu. Laboratorium IPA lain dengan laboratorium Bahasa, laboratorium PPKn lain pula dengan laboratorium Keterampilan Teknik, dan seterusnya.

Konten dan topik yang hendak dipelajari melalui laboratorium akan berbeda pelaksanannya. Setiap topik memiliki dan menuntut karakteristik penanganan penggunaan laboratorium tersendiri.

E. Prosedur Penggunaan Laboratorium

Penggunaan di sini berarti bagaimana mendayagunakan laboratorium yang ada, agar bermanfaat bagi proses belajar-mengajar. Ada pun langkah-langkah pemanfaatan laboratorium untuk program pembelajaran akan berlainan bagi setiap bidang studi. Namun paling tidak langkah-langkah dan hal-hal berikut secara umum terdapat dalam penyusunan program. Langkah-langkah atau hal-hal tersebut adalah :

  1. Analisis kurikulum secara keseluruhan, baik Mata kuliah, deskripsi mata kuliah, pokok bahasan, dan sub pokok bahasanya.
  2. Penentuan pokok bahasan.
  3. Penentuan bobot taksonomik dari pokok bahasan.
  4. Penentuan Standar kompetensi, kompetensi dasar, indikator, dan tujuan pembelajaran
  5. Pengembangan materi dari pokok bahasan.
  6. Pengembangan disain pembelajaran.
  7. Penetapan apakah seluruh bagian, satu atau dua bagian dari materi pokok bahasan yang memerlukan laboratorium.
  8. Alat/perlengkapan apakah yang akan dipergunakan dan harus disediakan.
  9. Penetapan langkah-langkah dalam pembelajaran dengan memakai laboratorium.

Fasilitas lain yang tersedia dalam masyarakat, Production House (PH), Balai Produksi Media Televisi (BPMTV), bengkel kerja, lembaga-lembaga kemasyarakatan, seperti Lembaga Ketahanan Masyarakat Desa (LKMD), pasar, bahkan masyarakat sendiri merupakan laboratorium; misalnya bagi IPS dan PPKn yang tak ada habis-habisnya. Urutan langkah dalam penyusunan program pembelajaran seperti tersebut di atas masih dapat dipakai dalam mempergunakan fasilitas lain dalam program pembelajaran.

Selamat Mencoba !


Tags

Apa Yang Dimaksud Laboratorium Terintegrasi |Sebutkan Laboratorium Terintergrasi |Sebutkan Hal Hal Yang Perlu Diperhatikan Saat Berada Di Laboratorium |Fungsi Labolatorium Kebidanan |Mengapa Dlm Mempelajari Ipa Dapat Dikaitkan Dengan Kegiatan Di Laboratorium |Laboratorium Merupakan Tempat Utama Dimana Ilmu Kimia Di Kembangkan |Metode Belajar Di Laboratorium |Pengertian Laboratorium Dalam Bidang Ips |5 Metode Pembelajaran Di Laboratorium |Sebutkan 3 Aktivitas Yang Terlibat Dalam Rangkaian Terjadi Di Lab |Metode Pembelajaran Di Laboratorium Kebidanan |Pir Pembelajaran Laboraturium |Pir Dalam Pembelajaran Laboratorium |Model Pembelajaran Pir Mikro Kebidanan |Pir Dalam Pembelajaran Mikro |Apa Yang Harus Diperhatikan Di Lab Kimia Biar Dpt Hasil Baik |Contoh Laboratorium Ips |Carilah Perangkat Perangkat Lab Dalam Pelajaran Teknik Kerja Bengkel |Pelajaran Tentang Lab Dasar |Conto Keselamatan Kerja Di Lab Biologi Dengan Menggunakan Alat Dan Baan Yang Aman |Hal Yang Harus Ada Di Laboratorium |Hal Apa Saja Yang Harus Ada Di Laboratorium |Pengertian Teknis Laboratorium |Langkah Yang Tepat Praktek Di Lab |Biologi Tentang Hal Yg Tidak Di Perbolehkan Dalam Laboraturium |
Show More Tags